Kamis, 28 Desember 2017

Cerminan kepribadian dari PIAGAM GUMI SASAK


Piagam Gumi Sasak
Narasumber : Ki Ageng Kekalik / biasa dikenal (Bapak Sadaruddin)
Mataram, 14 Mulut Tahun Jimawal 1437 H / Mataram, 26 Desember 2015. Dihadiri oleh beberapa tokoh, yakni Ketua Majelis Adat Sasak, Tokoh Agama, Sejarawan, Tokoh Budaya, Ahli Bahasa, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan NTB, dan beberapa tokoh masyarakat yang berasal dari daerah selatan.
Sesuai dengan namanya PIAGAM GUMI SASAK, pertamakali digagas oleh Drs. H. Lalu Agus Fathurrahman (Tokoh Budaya) dan  dibuat pertamakali saat ini dengan tujuan untuk membangkitkan kembali jati diri orang-orang Sasak yang pemahamannya terhadap Budaya telah rapuh.

Pada saat itu merupakan acara pembacaan Piagam Gumi Sasak yang dengan tujuan untuk membangkitkan kembali dan menunjukkan kembali jati diri orang Sasak, bahwa Sasak ini ada, tapi dengan corak dan ragam Peradabannya, Budayanya, dan Adat Istiadatnya. Nah, inilah maksud dari pelaksanaan pembacaan Piagam Gumi Sasak. Sehingga untuk kedepannya mampu berbicara melalui bentuk dan corak peradabannya.

Untuk penyebarannya sendiri, tidak lupa pada saat acara berlangsung menghadirkan beberapa tokoh masyarakat dari masing-masing bagian Lombok, seperti daerah Selatan, Utara, Barat, dan Timur. Dimana tokoh masyarakat ini nantinya akan memberitahukan kepada warga di lingkungannya. tidak hanya melalui setiap tokoh daerah, melainkan juga menyebarkannya melalui Dinas-dinas dan sosial media.

Setiap mengadakan acara-acara sakral seperti ini haruslah mengenakan pakaian Adat Sasak. Mengapa?...
Menurut narasumber yang saya wawancarai berpendapat bahwa para tokoh-tokoh yang menghadiri acara tersebut sudah berkomitmen, bahwa hal-hal seperti itu, setiap berbicara tentang Roh Sasak, haruslah menunjukkan jati diri melaui busana Adat Sasak.

Isi piagam...

PIAGAM GUMI SASAK

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan. Melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.

Perjalanan sejarah  bangsa Sasak diwarna oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, menguburkan, dan melelapkan keluhuran Budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, penguburan jati diri sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan Budaya dan Sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.

Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak Bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :
Pertama        :Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan.
Kedua        :Berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intlektual Bangsa Sasak agar terpelihara kemurniannya, kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh Budaya Sasak.
Ketiga            :Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan trdisionalitas.
Keempat        :Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak Baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima       :Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuuan Republik Indonesia.


Sekian ringkasan mengenai informasi Piagam Gumi Sasak, semoga kita semua, khususnya orang Sasak sadar dan bangkit terhadap Budaya kita yang makin rapuh dan hilang akan berkembangnya zaman. :) semangat!!!

Sabtu, 23 Desember 2017

Tradisi Sasak Gruman




Gruman merupakan salah satu tradisi Sasak yang sudah tertinggal zaman. Gruman berartikan sapu yang diambil dari sisa jerami yang sudah tidak ada isinya. Jerami yang sudah diambil beberapa kemuadian akan diikat menggunakan tali dan dirapikan sisi belakang sehingga terbentuk sapu mini.

Terkait dengan gambar, bahwa gruman menunjukkan betapa cerdasnya orang tua zaman dahulu, mereka mampu memikirkan suatu hal yang unik untuk membersihkan rumah, khususnya rumah suku Sasak yang dulunya masih menggunakan lantai tanah. Tidak hanya sebatas untuk membersihkan lantai. Namun, untuk membersihkan segala prabotan rumah tangga juga.
 

Sekian postingan mengenai tradisi Sasak Gruman, semoga bermanfaat :) 

Ritual Kebudayaan Sasak Bisoq Tian





Bisoq tian dalam Bahasa Indonesia, artinya cuci perut. Namun, masyarakat sasak mengartikan ritual bisoq tian ini merupakan tradisi masyarakat sasak yang dilaksanakan dalam bentuk rowah (selamatan). Saat usia kehamilan tujuh bulan, secara tradisional dianggap bayi yang dikandung sudah matang atau bayi sudah siap lahir.

Tradisi Bisoq tian dilakukan untuk menyiapkan calon Ibu dalam menghadapi proses melahirkan. Tradisi selamatan ini dikenal denngan nama rowah bisoq tian. Suasana Islami yang tergambar dalam tradisi bisoq tian ini, kental disetiap tahap ritualnya. Karena pada dasarnya masyarakat sasak secara pribadi beragama Islam.



Dapat kita lihat dalam keseharian bahwa banyak hal dari tradisi bisoq tian ini yang ditabukan oleh setiap masyarakat, seperti halnya saat seorang perempuan mengandung, yakni suaminya tidak diperbolehkan memotong rambut sampai istrinya melahirkan. Suami juga tidak boleh membunuh binatang, jika hal tersebut dilakukan, dipercaya keturunannya akan mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan. Karena masyarakat tradisional sasak memiliki keyakinan yang kuat, jika itu dilanggar maka anak yang dilahirka akan cacat.

Nah, kontroversi semacam inilah yang masih melekat di dalam diri masyarakat sasak. Jika kita berfikir atau merenungkan kembali bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah swt. Dalam surah At-tin ayat 4 menyatakan bahwa “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya.” Dari potongan ayat tersebut sudah semestinya kita sadar dan berfikir positif bahwa yang menciptakan segala sesuatu termasuk makhluk hidup dengan sempurna yakni Allah swt.